Deven, cowok yang aku dambakan untuk menjadi kekasih hatiku. Aku menyukainya sejak kita duduk di kelas lima SD sampai saat ini kita sudah duduk di kelas satu SMA, waktu yang begitu lama namun rasa suka itu tak pernah pudar sedikitpun. Walaupun begitu Deven tak pernah tau perasaanku yang sesungguhnya karena dia hanya menganggapku sebagai teman dekatnya. Saat malam tiba Deven suka mengajakku melihat bintang di halaman depan rumahku, dia sangat suka dengan bintang sirius. Bintang yang paling terang jika di lihat dari bumi, namun bagiku bintang yang paling terang adalah orang yang saat ini sedang duduk di sebelahku.
“Lihat! Bintang siriuslah yang paling terang, kamu suka bintang apa?”
“Entahlah, semua bintang itu indah. Namun aku tak mampu menggapainya, jadi percuma saja aku menyukainya”
“Tapi kita dapat melihat keindahannya” protesnya.
“Semakin aku melihatnya maka semakin ingin aku memilikinya”
“Sepertinya kau bukan sedang membicarakan bintang”
“Bintang itu sesuatu yang indah, namun aku tak dapat menggapainya. Jadi, percuma saja aku mengaguminya”  keluhku.
“Apa kau sedang patah hati? Sebenarnya kau menyukai siapa? Mengapa kau tidak menceritakannya padaku?” Deven memberiKan pertanyaan yang sulit untukku.
“Itu masih rahasia, nanti jika tiba waktunya kau pasti mengetahuinya kok” andai kamu tau isi hatiku…..
***
Setiap hari aku hanya mampu memandangi Deven dari kejauhan karena sekarang Deven sedang mendekati perempuan yang dia sukai. Semenjak perempuan itu hadir diantara aku dan Deven,  Deven jadi lebih sering menghabiskan waktunya bersama dia. Sedangkan aku hanya memandangi mereka sambil menahan air mata. Hati ini memang terasa begitu sakit saat melihat mereka, namun aku tak dapat melakukan apa-apa selain terdiam dalam kesedihan. Aku hanya mampu mengungkapkan kesedihan itu melalui buku harian yang aku tulis setiap malam. Besok adalah hari ulang tahunku, biasanya Deven adalah orang pertama yang memberiku ucapan selamat. Maka, aku berangkat sekolah pagi-pagi sekali karena tidak sabar ingin mendengar kata-kata Deven saat mengucapkan selamat ulang tahun. Aku melihat Deven sedang berjalan bersama perempuan itu.
“Pagi yang indah ya?” Deven sangat bersemangat.
“Ia, berbeda dari hari biasanya”
“Ialah, soalnya hari ini adalah hari yang paling bersejarah untukku”
“Kenapa?” aku sudah tidak sabar.
“Karena hari ini aku jadian sama Filli, seneng banget deh rasanya. Soalnya dia adalah pacar pertamaku” belum pernah aku melihat Deven segembira ini.
“Oh, kamu jadian sama perempuan yang kamu suka itu waah…. berarti hari ini aku dapat makan siang gratis dong…” walau berat aku mencoba tersenyum karena yang aku ingin berikan untuknya hanyalah senyuman termanisku. Walaupun senyuman itu menandakan bahwa sinar bintangku telah redup. Berita ini menjadi kado terpahit yang pernah aku terima dan tanpa Deven sadari dia melupakan hari ulang tahunku.
***
Semakin hari aku merasa dilupakan oleh Deven, waktunya hanyalah untuk Filli. Tanpanya aku seperti sedang berada dalam ruangan kecil tanpa jalan keluar. Apa seorang sahabat yang sudah lama ia kenal hilang begitu saja dari pikirannya hanya karena seorang kekasih? Aku semakin sedih dan kecewa atas sikapnya itu, hingga aku memberanikan diri untuk datang kerumahnya.
“Dev, aku ingin tau seberapa berharganya perempuan itu di mata kamu sampai-sampai kamu melupakan aku”
“Apa maksud kamu?”
“Dev, kamu sadar gak sih kalau waktu kamu itu hanya untuk dia, kamu gak pernah punya waktu untuk aku lagi!” aku sedikit kesal.
“Tapi menurut aku itu adalah hal wajar karena sekarang aku sudah mempunyai pacar. Lagian kamu harus sadar bahwa gak selamanya kita akan selalu bersama, jalan hidup kita berbeda. Cepat atau lambat kita juga akan berpisah”
“Kenapa kamu bilang seperti itu? Apa maksud kamu cepat atau lambat kita akan berpisah?” aku merasa heran dan tidak percaya apa yang telah dikatakan Deven padaku.
“Karena aku lebih suka bergaul dengan orang yang mempunyai hobi, tujuan hidup, dan mempunyai cita-cita yang sama denganku. Kamu dan aku bertolak belakang dalam hal itu, tapi Filli sama denganku. Sehingga aku lebih suka bersamanya dari pada kamu. Perbedaan hanya akan menjadi batu sandungan bagiku, aku harap kamu bisa memahaminya” Deven memalingkan wajahnya dari hadapanku.
“Ta…ta…pi… kenapa?” suaraku tersendat mendengar perkataan Deven.
“Karena perbedaan tak pernah bisa bersatu, perbedaan hanyalah akan menjadi hal yang membuat kita saling membenci”
“Dev, bukannya kita semua di ciptakan dengan penuh perbedaan agar kita dapat saling melengkapi?”
“Perbedaan itu bagai api dan air yang tak pernah bisa bersatu, jika mereka bersatu bukankah hanya air yang dapat bertahan sedangkan api itu akan mati. Tetapi jika kita sama bukankah akan semakin kuat” jelasnya.
“Oh, jadi itu alasan kamu. Ok, aku terima. Tak ku sangka kamu jadi seperti ini, ternyata persahabatan kita selama ini tak berarti apa-apa di matamu. Terima kasih untuk segalanya dan semoga kamu bahagia bersama pilihan kamu” aku melangkah pergi dengan penuh rasa kecewa.
Bintang yang selalu aku dambakan kini semakin jauh dari jangkauanku, bahkan aku tak yakin dapat melihat keindahan sinarnya lagi. Karena ia tak bersinar untukku lagi, melainkan untuk orang lain.
***
Tak terasa tiga tahun telah berlalu, hari ini adalah hari kelulusanku. Semenjak Deven menjelaskan bahwa ia tak mau berteman lagi dengan orang yang mempunyai perbedaan aku tak pernah lagi bermain bersamanya. Disaat aku bertemu dengannya aku tak dapat menahan air mataku, karena sampai saat ini aku masih belum bisa melupakannya. Setelah pengumuman kelulusan aku akan pergi ke Malaysia untuk melanjutkan kuliah, namun sebelum aku pergi ada satu hal yang mengganjal dalam benak dan hatiku yaitu Deven. Maka aku menulis surat untuk mengungkapkan seluruh isi hatiku.
“Dev, apa aku boleh bicara sama kamu” pintaku.
“Ada apa lagi? Bukankah kita sudah tidak ada urusan lagi”
“Ia, aku tau. Tapi izinkan aku bicara untuk yang terakhir kalinya sama kamu”
“Mau ngomong apa?” jawabannya ketus.
“Aku akan melanjutkan kuliah di Malaysia, entah berapa lama kita bisa bertemu lagi. Tapi ada satu hal yang mengganjalku, aku menuliskannya di kertas ini” aku memberikan kertas padanya. Aku menulis surat ini pada kertas lusuh yang ternoda air mata. ”Aku harap kau mempunyai waktu untuk membacanya. Oh ia, terima kasih telah menjadi temanku dan terima kasih juga untuk segalanya yang membuat hidupku lebih berarti” aku melangkah pergi meninggalkannya dengan air mata yang berlinang membasahi pipiku. Setelah aku pergi Deven membaca suratku.

Dear, Deven
Dev, mungkin bagimu aku tak berarti apo-apa. Namun, bagiku kau adalah seseorang yang sangat berharga bagiku. Dev, awalnya aku tak tau apa itu cinta. Namun, saat ku melihat senyumanmu aku merasa bahagia, kau membuatku gelisah saat kau tak ada, kau membuatku menangis, kau membuatku cemburu saat kau bersama Filli, kau membuatku bodoh saat aku aku dapat menerima kenyataan bahwa kau bukan milikku, kau membuatku takut untuk kehilanganmu. Dari situ aku baru menyadari bahwa aku menyukaimu, aku tau aku terlambat mengatakannya dan aku tau rasa ini salah. Namun, terlambat atau tidak bukankah itu sama saja, karena menurutmu aku dan kamu itu berbeda dan perbedaan itu tak dapat di persatukan. Jadi percuma saja aku mengatakannya, tapi aku ingin lewat surat ini kamu bisa tau isi hatiku. Awalnya aku tak dapat menerima kenyataan bahwa kamu sudah menjadi milik orang lain, aku hanya menganggapnya sebagai mimpi buruk. Aku terus mendekatimu, namun kau malah menjauhiku. Kau tau saat kau berada di depanku rasa sakit ini sangat terasa menyakitkan, namun aku berharap bahwa semua ini akan berubah. Aku berharap bahwa kita dapat bahagia bersama selamanya. Saat ini aku merasa lelah untuk menunggumu, aku merasa aku tak mempunyai harapan lagi untuk bersamamu. Aku mencoba untuk menerima kenyataan meskipun sangat sulit untuk aku lakukan. Karena aku tak ingin hidup dalam bayang-bayangmu terus. Namun, aku akan selalu membawa bintangku yang redup dalam hatiku.  Aku akan melanjutkan kuliah di Malaysia aku harap kamu tidak melupakan kenangan kita dulu ya, karena bagiku kenangan itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Terima kasih untuk segalanya….

Sahabatmu,

Setelah membaca surat itu Deven tersungkur di lantai dan menangis.
“Kenapa kamu harus pergi?” Deven menutupi wajahnya dengan tangan, “kenapa aku merasa sedih dengan semua ini?” Deven mencoba merenungkan apa yang ia rasakan.
Dua hari Deven tidak keluar kamar karena terus memikirkannya. “Sekarang aku baru menyadari bahwa aku terlalu egois, aku baru menyadari bahwa dengan kesamaan yang aku milikki dengan Filli justru membuat hidupku tidak berwarna meskipun terasa nyaman. Namun, ketika aku berada dalam sebuah perbedaan dan mencoba memahaminya aku merasa hidupku terasa lebih berwarna” air matanya kini mengalir membasahi pipinya tanpa ia sadari. “mengapa aku tak pernah memikirkan perasaannya? mengapa aku membiarkannya menangis seorang diri? mengapa aku membuatnya terluka?” pertanyaan-pertanyaan mulai muncul dari dalam hatinya meskipun terasa terlambat, dan waktu tak akan pernah terulang. Maka, Deven ingin mencoba memperbaikinya dan ia akan menunggu sahabat sejatinya itu kembali dari Malaysia dan Deven menyadari bahwa yang ia cintai adalah sahabatnya sendiri bukan Filli. “Sahabat itu akan menjadi sahabat sejatiku, dia yang akan mendampingiku hingga akhir hayatku dan aku akan terus menunggunya hingga ia kembali. Dialah bintang sejati yang bersinar terang di dalam hatiku”

—END—

Oleh : Suslia Dwi Ati S.E
Kelas: XB

Bisa dilihat di blog http://constata2.blogspot.com