Nama ku Jerry, aku seorang anak laki-laki berumur  17 tahun. Aku merasa hidupku sempurna karena aku memiliki semua yang aku mau terlebih aku adalah anak tunggal. Aku memiliki prestasi yang lumayan bagus meskipun aku jarang belajar, aku menganggap keberuntungan hanya milikku seorang. Yang aku tau Tuhan hanya sayang padaku karena aku adalah manusia paling sempurna, aku jarang melakukan perbuatan dosa dan selalu memperbaikinya. Kegiatan sehari-hariku hanya sekolah dan rumah, dan pekerjaan ku hanya belajar dan bermain games. Papah dan mamah selalu membanggakan aku. Hari ini aku pergi sekolah seperti biasanya di antar oleh mamah, aku selalu datang tepat pada saat bel masuk berbunyi karena aku tidak suka datang pagi-pagi. Jam pelajaran pertama di mulai dengan pelajaran matematika, aku merasa aku tak perlu mendengarkan ataupun memperhatikan penjelasan guru karena aku sudah memahami materi itu. Jadi aku hanya menggigiti kuku ku sambil membaca komik dan tiba-tiba penghapus melayang di kepalaku.
“Jerry… Bapak perhatikan dari tadi kamu hanya menggiti jarimu sambil membaca komik. Apa kamu sudah merasa pintar sampai kamu tidak memperhatikan pelajaran Bapak?” tanyanya dengan nada marah dan mata yang membesar. Melihat itu aku hanya menundukan kepala dan terdiam. “kamu sudah sering melakukan hal ini pada saat jam pelajaran saya, jika kamu tidak suka kamu boleh keluar dari kelas saya”
“aku suka kok dengan pelajaran Bapak” jawabku.
“Tapi saya merasa tersinggung oleh sikap kamu barusan, kamu harus minta maaf dan berjanji untuk tidak akan mengulanginya. Percuma kamu pintar jika sikapmu seperti ini!”
“Ia, maaf pak. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi”
“Ini peringatan saya yang terakhir, jika kamu melakukannya lagi Bapak tidak akan segan-segan untuk mengeluarkanmu dari kelas Bapak” ancamnya.
“Baik pak” jawabku santai.
Di kelas aku tidak mempunyai teman karena aku merasa tidak membutuhkannya, setiap jam istirahat aku selalu pergi ke perpustakaan untuk membaca buku. Teman-teman suka mendekatiku, namun aku selalu menjauh dari mereka. Teman hanyalah akan membawa dampak buruk untukku dan mereka hanya akan menyusahkanku seperti anak laki-laki yang duduk di sebelahku ini.
“Jerry, aku gak ngerti nih sama pelajaran matematika. Kamu kan pinter, jadi ajari aku ya” pintanya.
“Hah… ngajarin kamu? Satu abad aku ngajarin kamu juga percuma, kamu gak akan ngerti”
“kok kamu ngomongnya gitu? Aku kan mintanya baik-baik” dia agak kesal.
“Mending kamu pergi dari hadapan aku sekarang dari pada kamu ganggu waktu aku” dia melangkah pergi dengan raut wajah yang agak kecewa dan agak marah.
Bel pulang berbunyi, saat doa pulang selesai ada sebuah pengumuman.
“Minggu depan sekolah kita akan mengadakan bakti sosial di panti asuhan, maka untuk itu setiap anak di harapkan dapat menyumbangkan baju-baju bekas yang masih layak di pakai atau makanan. Dan setiap kelas majib mengirimkan perwakilan untuk membantu di acara bakti sosial tersebut. Demikian pengumuman ini dan terima kasih” anak-anak langsung ribut. Entah karena mereka ingin memberiku pelajaran atau apa, namun mereka mengusulkan kepada wali kelas agar yang menjadi perwakilan adalah aku. awalnya aku menolak, namun karena di desak oleh wali kelas maka dengan sangat terpaksa aku menyetujuinya.
***
Di Panti Asuhan aku hanya duduk sambil melihat anak-anak yang sangat gembira dengan kedatangan kami, anak-anak panitia mengajak mereka bermain dan membagi-bagikan pakaian dan makanan. Aku merasa tidak nyaman dengan suasana seperti ini, anak-anak saling berebut untuk mendapatkan baju bekas dan makanan. “makanan kecil dan pakaian bekas untuk apa di perebutkan?” pikirku.
“Jer, kamu ngapain di sini? Kenapa gak bantu yang lain atau kamu ngajak anak-anak main gitu” Citra sedikit menegurku, dia adalah ketua panitia dalam acara ini.
“Emang penting?” tanyaku dengan santai.
“Hah… kamu nanya gitu, gak salah?” Citra heran.
“Salah? Ia salah, aku salah udah mau dateng ke sini” aku sedikit kesal.
“Kita ke sini buat acara bakti sosial, kalo kamu gak suka kamu boleh pulang kok. Lagian percuma kamu ada di sini karena kita Cuma butuh orang-orang yang punya rasa kemanusiaan” tegurnya.
“Ok, aku pulang” dengan rasa kesal karena mendengar perkataan Citra barusan aku melangkah pergi mencari taxi untuk pulang. Sesampainya di rumah aku terus mengomel karena masih kesal, maka akupun memutuskan tidur untuk menenangkan pikiran. Saat aku tertidur lelap aku merasakan ada goncangan, semua barang-barang yang ada di meja belajarku berjatuhan ke lantai. Aku segera terbangun dan berlari ke luar, ternyata itu adalah gempa bumi dengan kekuatan yang lumayan besar. Aku melihat kedua orang tuaku  tertimbun oleh reruntuhan rumah yang ambruk dalam sekejap, di saat aku ingin menolong mereka aku terjatuh dan kakiku terkena reruntuhan. Karena tak mampu menahan rasa sakit akupun jatuh pingsan.
***
Saat aku tersadar aku melihat orang-orang di sekelilingku menjerit kesakitan dan mereka menangis mencari keluarga mereka. Banyak para dokter yang di kerahkan untuk mengobati para korban yang ada di sini. Tiba-tiba ada satu dokter yang mendekatiku.
“Kamu sudar sadar dik?”
“Kenapa aku di sini? Kemana papah dan mamahku? Aku gak suka berada di tempat ini, aku mau pulang!” aku sedikit memaksa.
“Di sini adalah tempat penampungan, daerahmu terkena gempa bumi. Kami menemukanmu saat kamu pingsan karena kakimu terjepit oleh reruntuhan rumahmu. Kami belum menemukan keluargamu, namun kami akan berusaha semampu kami untuk mencariya” dia menepuk pundakku dan melangkah pergi.
“Gak mungkin… ini pasti mimpi, aku gak mungkin berada di tempat seperti ini dan aku gak mungkin kehilangan orang tua ku. Aku adalah orang yang paling beruntung di dunia, jadi gak mungkin semua ini terjadi” aku menangis dan menutup mataku berharap semua ini hanyalah mimpi, tak lama kemudian aku membuka mataku dan semua belum berubah. Aku masih berada di tempat yang mengerikan ini, maka akupun mencoba bangun karena ingin mencari orang tuaku. Namun di saat aku ingin menggerakan kakiku, aku tak mampu melakukannya. Aku melihat kakiku yang di perban dan mananyakannya pada dokter yang lewat.
“Dok, apa yang terjadi dengan kakiku?” aku panik.
“Kakimu terjepit reruntuhan yang mengakibatkanmu tidak dapat berjalan lagi” wajahnya mengisyaratkan bahwa dia juga ikut sedih dengan keadaanku.
“Semua gak mungkin terjadi, aku adalah orang terberuntung di dunia ini. Jadi gak mungkin aku mengalami semua kejadian ini, GAK….!” aku menjerit dan meneteskan air mata.
“Tapi inilah kenyataan yang harus kamu terima, semua gak mungkin dapat kita ubah. Dan kita tak mungkin untuk menyangkalnya” Dokter mencoba menyadarkanku.
Berhari-hari aku hanya tertidur di tempat tidur sambil menangis. Bantuan makanan, pakaian, dan air bersih dari pemerintah tak kunjung datang. Kami mulai kekurangan, aku merasa sangat sedih dan belum bisa menerima semua kenyataan ini. Aku tidak pernah berfikir akan mengalami semua ini, aku gak sanggup bila aku harus hidup dengan kekurangan seperti ini dan aku tidak mempunyai siapa-siapa saat ini.
“Hay… gimana kaki kamu, udah baikan?” tanya Deven, cowok yang waktu itu minta ajarin matematika. Tapi aku malah menyuruhnya pergi.
“Ngapain kamu nanya-nanya, emang penting buat kamu?” jawabku ketus.
“Dalam keadaan seperti ini kok sikap kamu gak berubah? Aku di sini juga sama seperti kamu, aku juga korban gempa bumi dan harus mengungsi di sini karena tidak ada tempat untukku. Aku ke sini sebagai temen kamu, tapi kalau kamu ngusir aku lagi aku akan pergi kok” tiba-tiba ada seorang sukarelawan yang mendatangi kami.
“Kami sudah menemukan orang tuamu dengan keadaan tertimbun reruntuhan  dan nyawa mereka tidak dapat kami selamatkan, kamu harus bersabar untuk menghadapi semua ini”
“Apa kamu seorang dokter?” tanyaku.
“Ia, saya seorang Dokter yang ikut membantu mencari para korban”
“Kalau kamu seorang dokter seharusnya kamu bisa menyelamatkan orang tuaku, bukankah itu tugas kalian!” aku marah padanya.
“Walaupun saya seorang Dokter, tapi saya tidak bisa membangunkan orang yang sudah meninggal. Hidup atau mati itu ada di tangan Tuhan, bukan saya” jelasnya.
“Kamu tau, Tuhan sangat sayang padaku, jadi gak mungkin jika dia melakukan semua ini!”
“Ya, Tuhan memang sayang padamu karena sampai sekarang kamu masih bisa menikmati udara”
“Tapi percuma jika aku tak mempunyai apa-apa, dari pada hidupku seperti ini lebih baik aku mati bersama orang tuaku” amarah yang tak dapat ku lukiskan. Melihat keadaanku yang seperti ini dokter meninggakanku berdua bersama Deven.
“Orang tua ku juga meniggal dalam gempa ini”
“Tapi kenapa kamu masih bisa tersenyum?” tanyaku heran.
“Untuk apa aku bersedih, walaupun aku nangis darah bukankah mereka tetap tak akan hidup lagi?” Deven menepuk bahuku. “Jerry, ikhlaskanlah orang tuamu agar mereka tenang di sana” kata-kata itu memang ada benarnya.
“Dev, antarkan aku melihat jenasah orang tuaku” Deven menggendongku karena aku tidak dapat berjalan dan di sini tidak ada kursih roda. Aku menangis di depan jenasah mereka.
Berhari-hari aku meneteskan air mata sambil memikirkan apa yang akan aku lakukan dengan kondisiku sekarang.
Mobil yang mengantarkan bantuan akhirnya datang juga, aku melihat banyak orang-orang yang bergembira dengan kedatangan bantuan ini. Aku juga ingin mengambilnya karena aku juga lapar dan membutuhkan pakaian, namun aku tak dapat berjalan. Tiba-tiba Deven menghampiriku.
“Jerry, nih makanan dan pakaian untuk kamu” Deven memberikannya padaku. “tadi aku mengambilkan untukmu”
“Dev, kenapa sekarang keadaannya terbalik?”
“Apa maksud kamu?”
“Dulu saat aku membantu memberikan sumbangan pada anak yatim piatu. Aku pernah berfikir untuk apa mereka bergembira padahal hanya makanan kecil dan pakaian bekas, jika membelinya harganya hanya seberapa. Namun mengapa sekarang aku berada di posisi anak yatim piatu itu?” aku menangis. ”dulu saat kau meminta bantuanku, aku tak membantumu. Aku berfikir tak ada gunanya aku membantumu, namun saat ini aku yang membutuhkanmu dan kamu malah menolongku”
“Itulah yang namanya roda kehidupan. Kita tak selamanya berada di atas, karena roda itu terus berputar dan ada kalanya kita yang berada di atas. Makanya jangan sombong dan sering-seringlah menolong sesama yang sedang kesusahan”
“Dev, makasih ya” aku memeluk Deven.
“kita akan berusaha supaya kita dapat kembali seperti dulu” Deven tersenyum.
“Dulu aku sering menyepelekan pelajaran karena aku sudah memahaminya. Namun sekarang aku ingin bersekolah lagi, aku ingin belajar.  Tapi sekolahan kita sudah hancur” penyesalan yang tak ada gunanya, namun begitu sanagat terasa di hati.
“Kamukan pinter, gimana kalau kita ngajar anak-anak yang masih kecil di penampungan ini. Walaupun tak seberapa yang dapat kita ajarkan, namun setidaknya dapat berguna bagi masa depan mereka” usulan Deven
“Boleh juga”
Akhirnya aku mengajar anak-anak setiap pagi di penampungan, dengan harapan masa depan mereka tak akan hancur seperti daerahku yang hanya tinggal kenangan. Penyesalan memang tak akan mengubah apa yang telah terjadi, namun dengan penyesalan kita dapat memperbaiki kesalahan kita dan menjadikannya sebagai pembelajaran.
***END***

Nama: Suslia Dwi Ati S.E
Kelas : XB

Bisa dilihat di blog http://constata2.blogspot.com