Ah Jung terbangun, “Ah, perutku! Oh, perutku!  Dimana ini?” keluh Ah Jung. Ia melihat ke sekeliling. “Siapa itu? Hei, kenapa kau di sini?” Ah Jung terkejut melihat Sang Hee masih ada bersamanya.
“Gong Jung Ah. Apa kau benar-benar ingin berpura-pura menikah dengan Hyun Ki Joon?” tanya Sang Hee.
Ah jung yang masih belum sepenuhnya bangun, ia hanya termangu.
“Jika itu yang kau inginkan, aku akan bantu?” ucap Sang Hee seraya tersenyum.

Beberapa detik kemudian, Ah Jung benar-benar terbangun. Hal pertama yang ia tanyakan, “Hei, jam berapa sekarang?”
“jam enam lewat sedikit.” jawab Sang Hee.
“Jam enam? Aku gila! Gila!” Ah Jung berteriak teriak. Seperti kebakaran jenggot, ia langsung merapikan dirinya dan segera keluar dari kamar.

“Satu malam di sini sama dengan gajiku sebulan! Setelah aku berbaring, aku tidak bisa bangun lagi. Ya, ini pastinya cuma mimpi!” Ah Jung panik. Ia berjalan terhuyung-huyung. Membenturkan kepala ke dinding beberapa kali dan tetap saja, ini bukan mimpi. “Tetap tenang. Ah! Ini bukan mimpi, sakit!” keluh Ah Jung seraya mengusap-usap kepalanya.

” kau benar-benar membuat orang bahagia hanya dengan melihamu.” ucap Sang Hee yang tertawa melihat Ah Jung panik setengah mati.

Park Hoon melapor pada Ki Joon, “Apa yang terjadi?” tanya Ki joon.
Park Hoon menjawab, “Ms Gong Ah Jung baru saja pergi tiga puluh menit yang lalu.”
“begitu?”
“Itu. . . Dan dia dengan seorang pria. Manajer mengatakan ia melihat Ms Gong Ah Jung dengan matanya sendiri, keluar bersama dengan seorang pria muda.” lanjut Park Hoon.
” Park Hoon? Tidak peduli apa yang tamu kita lakukan, itu privasi mereka, Jadi, bagaimana bisa kau berbicara tentang hal itu?” Ki Joon sama sekali engga tertarik dengan informasi yang diberikan Park Hoon.
“Tidak, bukan itu. . . Aku hanya berpikir bahwa Presiden mungkin penasaran.”
” Tidak, aku tidak tertarik.”

Sambungan telepon terputus, dan see, Ki Joon ternyata penasaran juga dengan pria yang dimaksud Park Hoon tadi.
” Seorang pria, ya? Wanita aneh. Dia sudah memiliki seorang pria tetapi masih ingin berpura-pura menikah denganku. Apakah dia bergurau?” ujar Ki Joon.

Sang Hee akhirnya berani bertemu dengan kakaknya, Ki Joon.   Ki Joon senang melihat Sang Hee kembali ke rumahnya.

Ah jung menemui ayahnya yang sedang mengajar, cara mengajar ayah Ah Jung bener-bener buat semua murid bosan. Ah Jung pun mengomentari hal itu.

Mereka makan bersama. Ah Jung terlihat engga nafsu makan, lalu ayah bertanya, “Apa kau sedang diet?”
Ah Jung menggeleng, “Ini tidak enak, aku katakan kita harus makan sesuatu yang enak kan?”
“Kenapa kau ini? Seorang gadis yang belum menikah malah tidak pulang ke rumah semalaman.”
“Aku sudah bilang, kemarin itu ada alasannya. Ayah, bisa aku menanyakan sesuatu? Ini tentang temanku.”
” Temanmu yang mana?” tanya Ayah Ah Jung.
“kau tidak tahu teman ini, Ayah.”

“Anyway, aku pikir dia mengalami kesulitan. Jadi aku berjanji untuk membantunya. Dia. . . sebenarnya belum menikah. . . Namun, ia mengatakan kepada orang lain bahwa dia menikah. Plus, ia menggunakan nama orang lain dan mengaku kalau ia menikah dengan orang itu. Itu hanya lelucon.” jelas Ah Jung. Teman? atau dirinya sendiri? hehe.

“Kenapa ia membuat lelucon seperti itu? !” tanya ayah.
“bukan begitu. . Hanya saja. . . Hanya saja itu terjadi karena kebetulan dan tidak disengaja. . .  Dia benar-benar tidak ingin apa-apa, namun pihak yang lain malah merasa di rugikan dan menuntut pencemaran nama baik. Dia bahkan mengirim bukti ke pengacara. Dia telah mengatakan ia akan menerima penuntutan. Jika hal ini harus di bawa ke pengadilan, menurutmu bagaimana hasilnya?” tanya Ah Jung. “Kira-kira apa yang akan terjadi? Orang itu tidak hanya kaya, dia juga memiliki dukungan besar di korea dan punya pengaruh besar.  Ada kau menemuinya langsung.”
“Kau menemuinya dan meminta maaf.” saran Ayah.
“Aku tidak bisa, aku sudah melewatkan kesempatan itu.”
“Kenapa kau yang menjawab? !” tanya ayah yang heran dengan kata “aku” di kalimat terarkhir yang Ah jung ucapkan.
“Aku sudah bilang itu bukan urusanku. Bukan aku!” Ah Jung meyakinkan ayahnya yang mulai menatapnya curiga.

Melihat keponakan kesayangan datang, bibi langsung memarahi Sang Hee.. Hehe.. Bibi sangat gemas melihat tingkah Sang Hee yang sama sekali engga bisa diatur.

Secara kebetulan Ayah Ah Jung dan Sunbae Jae Bum bertemu.
“Halo, Profesor! Aku Chun Jae Bum. Kau ingat, kan?” sapa Jae Bum.
“Ah, kau datang bersama dengan istrimu?” tanya Ayah yang langsung mengenali Jae Bum.

 

“Ah, ya.” Jae Bum langsung menjabat tangan Ayah Ah Jung. “Selamat, karena Ah Jung sudah menikah! Aku tidak mendengar tentang hal itu sebelumnya. Aku baru tahu hal itu beberapa waktu dekat ini. Tapi. . . Bagaimana dia bisa menikah dengan presiden World Hotel, Hyun Ki Joon?” tanya Jae Bum.
Ayah juga terkejut mendengar hal itu. “Jangan khawatir, aku juga terkejut.”

 

Ayah pulang ke rumah dan ia langsung menanyakan perihal pernikahan Ah Jung dan Ki Joon.
Ah Jung bergumam, ” Departemen Kebudayaan selalu punya hari-hari liburan terburuk. Entah setiap orang yang memiliki keluarga atau kekasih. Mereka selalu memiliki hari-hari liburan terbaik.”
“Apakah itu sebabnya kau memberitahu orang lain bahwa Kau sudah menikah? Menikah dengan  Presiden World Hotel?”
“Ayah.”
“Jika Kau ingin menikah, menikahlah. Jangan berbohong tentang hal itu.”
“Aku tidak ingin menikah.”
“Lalu kenapa kau memberitahu kebohongan seperti itu? Aku hanya. . . berbicara sembarangan.”
“Sembarangan?”

Ki Joon masih memendam perasaan cintanya pada Yoon Joo, diam-diam ia berkunjung ke rumah Yoon Joo. Yoon Joo. Setelah hubungan pernikahan antara Yoon Joo dan Ki Joon dibatalkan, Yoon Joo langsung pergi ke Prancis. Ki Joon melihat ke arah balkon yang kosong dan ia membayangkan Yoon Joo berdiri di sana, Yoon Joo seolah-olah berkata, “Kau menyesal, kan? Kau merasa sangat kasihan padaku, bukan? Jika Kau akan merasa seperti itu, mengapa Kau melepaskan  Yoon Joo yang cantik ini? Baik, aku akan membiarkanmu pergi sekali ini saja. Kemarilah kalau Kau ingin meminta maaf.”

Ki Joon hanya tersenyum dengan semua bayangannya itu. “Sudah lama sekali. Happy Birthday.” ucap Ki Joon.

Malam harinya, reuni antara Ki Joon dan Sang Hee dirayakan dengan meminum soju bersama.
“Aku bersyukur, karena pengorbanan hyung, aku bisa hidup dengan cara yang aku inginkan.” ucap Sang Hee.
“Pengorbanan apa? Aku suka melakukan hal ini, tidak ada hal yang tidak membuatku puas.” jawab Ki Joon.
“Kau sangat tidak rela kehilanganku bahkan kau merelakan Yoon Joo juga..  Haruskah Aku juga berterima kasih untuk ini?”
“Tolong jangan salah paham. Hal ini tidak ada hubungannya denganmu.”
“Bagaimana bisa tidak ada hubungannya denganku? Hal itu jelas karena aku. Aku sangat menyukai Yoon Joo, Hyung. Sejak kami di bangku sekolah dasar, aku sangat menyukainya. Tapi bagaimana bisa kau mengambilnya dariku. Kalau Yoon Joo tidak untukku, kau juga tidak boleh memilikinya.”

 

Pagi harinya Ki Joon dan Sang Hee pergi ke  makam orang tua mereka.

Setelah pulang dari makam, Sang Hee mengambil kesempatan itu untuk membantu Ah Jung. Sang Hee berpura-pura menyuruh Ki Joon untuk membeli sayuran. Ki Joon yang sama sekali tidak curiga langsung saja turun dari mobil. Dan beberapa detik kemudian.. wuzzzz…. mobil yang dikendari Sang Hee melaju cepat dan meninggalkan Ki Joon di desa itu.

Sang Hee langsung menelpon Ah jung dan menyuruhnya datang ke taman bermain.
“Apa?” ucap Ah jung di telepon.
“Kau ada di rumah, kan? Datanglah ke taman bermain.” pinta Sang Hee.
“Aku sibuk, Kau tau.”
“Jika Kau tidak segera datang, aku akan pergi ke temanmu dan mengatakan yang sebenarnya, bahwa pernikahanmu itu palsu.”

Terpaksa sang presiden Hyun Ki Joon yang terhormat mesti naik bis bersama para lansia. Heehe..

Ternyata, Sang Hee berencana untuk mengambil alih tugas untuk menemui perwakilan dari Jepang. Karena Ki Joon terjebak di desa, jadi ia menyuruh Park Hoon untuk menjemput utusan dari Jepang. Tapi sayangnya, Sang Hee lebih cerdas dari pada Park Hoon, alhasil, Sang Hee yang terlebih dulu berhasil menjemput duta jepang itu.

Di bandara yang sama, di waktu yang sama pula. Ternyata Yoon Joo juga sudah sampai di Korea. Ia berselisih jalan dengan Sang Hee.

Tapi, Park hoon sekilas melihat kedatangan Yoon Joo. Ia melihat hanya sekilas dan engga berani memastikan kalau itu adalah Oh Yoon Joo.

Sang Hee sukses buat Ah Jung terpesona dengan bahasa jepangnya yang keren.

 

Daan… Sang Hee berkata pada duta jepang itu kalau Ah Jung adalah istri dari Ki Joon. Ah Jung yang sama sekali engga mengerti bahasa jepang hanya senyum-senyum engga puguh. (?)

Oh Yoon Joo sampai di rumahnya. Rumah itu mengingatkannya pada terakhir kali ia bertemu dengan Ki Joon. Saat Ki Joon memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahan mereka.

“Kita. . . Sepertinya… kita tidak dapat melanjutkan semua ini. Maaf, Joo Yoon.” ucap Ki Joon.
“Permintaan maaf maksudmu? Kau Hanya tinggal mengatakan, –Ini adalah kesalahanku– itu sudah cukup, aku akan memaafkanmu. Aku tidak marah.”
“Biarkan kita akhiri rencana pernikahan ini.” Ki Joon menahan tangisnya.
“Aku serius, aku tidak marah lagi.” jawab Yoon Joo.

Ki Joon mengatakan alasannya kenapa ia dan Yoon Joo harus mengakhiri rencana pernikahan mereka, “Sang Hee menghilang.”
“Mungkin. . . dia hanya pergi berlibur? Kau tahu kan bagaimana sifatnya. Sang Hee hanya temanku. Aku tidak pernah memiliki rasa lain padanya, aku tidak menganggapnya sebagai lebih dari seorang sahabat. Kami berteman saja! Oppa, ia selalu melakukan apa yang diinginkannya. Dia selalu mementingkan perasaannya sendiri lebih penting dari pada orang lain. Mengapa selalu harus karena Sang Hee. . . ? Oppa, sungguh aku tidak marah.” kilah Yoon Joo.
“Tidak peduli apapun, dia masih adikku. Ketika aku kecil, aku kehilangan kedua orang tuaku. Kami berdua adalah satu-satunya yang tersisa di dunia ini. Sang Hee adalah keluarga satu-satunya bagiku. Itu sebabnya aku tidak bisa kehilangan Sang Hee.”
“Bagaimana denganku? Sang Hee adalah saudaramu jadi kau tidak bisa meninggalkan dia. Bagaimana dengan aku, oppa? Bukankah aku satu-satunya untukmu, juga? Untuk Hyun Ki Joon, apakah ada Oh Yoon Joo lain? Jawab aku. Bagaimana tentang aku?”

 

Kedua duta jepang itu pergi ke korea untuk merayakan bulan madu ke-sekian kalinya bagi mereka. Dan mereka memilih korea dan daerah pesisir untuk mengisi bulan madu mereka. Ah Jung dan Sang Hee lagi-lagi berhasil buat suasana tambah menyenangkan.

Karena Ah Jung berhasil membuat senang duta dari jepang, hasilnya kedua duta jepang itu memutuskan untuk menginap di hotel world.
Ki joon mendapat pesan dari sekretarisnya.
-= Ketua Jeon dan istrinya baru saja check in di hotel World =-

Istri dari perwakilan duta jepang sangat menyukai Ah Jung.

Saat hendak keluar dari hotel, di koridor tanpa sengaja Ah jung berpapasan dengan Ki Joon. Langsung saja, Ah Jung menyembunyikan wajahnya.

Suka scene ini, efek slowmotion-nya keren. Hehee..
Tapi, Ki Joon bukan orang yang gampang di bodohi. Menyadari gelagat engga beres dari orang yang baru saja lewat di sampingnya, Ki Joon langsung menyadari sesuatu. Ia tahu kalau itu adalah Ah Jung. Ki Joon langsung membuntuti Ah Jung dan keduanya menaiki lift yang sama.

“Bukankah menginap di sini sedikit terlihat terlalu berlebihan bagi pegawai sipil seperti kau. Kau termasuk warga pegawal sipil yang boros.” sinis Ki Joon.
“Omo! Apakah Kau juga tidak suka bila ada tamu hotel yang selalu pergi ke hotelmu ini?” jawab Ah Jung.
” Kau jelas punya pacar. Mengapa kau masih ingin aku menaruh kesan bahwa kita sudah menikah? Apa? Apakah karena pacarmu tidak ingin menikahimu? Jadi, Kau menyebarkan desas-desus bahwa kita sudah menikah?”
“Tidak, apa kau gila..” jawab Ah Jung.

Keluar dari lift, buru-buru Ah Jung mencegat taksi dan pergi meninggalkan Ki Joon.

“Apa kabar semua? Aku benar-benar minta maaf. Seharusnya aku pergi untuk menjemput Kalian di bandara.” sapa Ki Joon.
“Itu tidak masalah. Istrimu telah memperlakukan kami dengan hangat.” jawab duta jepang.
“Istri?” Ki Joon terkejut.
“Istrimu tidak datang ke sini untuk makan bersamam kami?”
“Apakah benar bahwa orang yang mengaku istriku menjemputmu di bandara?”

Ah Jung menemani So Ran untuk berobat dan keduanya berbincang-bincang. So Ran memang penjilat, setelah mengetahui kalau Ah Jung adalah istri Ki Joon, ia langsung merubah sikap sombongnya dan ia memperlakukan Ah Jung dengan sangat baik.

Tapi, beberapa menit kemudian, bencana datang. Ki Joon datang dan menghampiri Ah Jung tanpa di duga.

“Bukankah itu suamimu?” pekik So Ran..
“Kenapa dia di sini?” gumam Ah Jung.

Yang mengherankan lagi, Ki Joon memanggil Ah Jung dengan sebutan Honey. “Honey, aku di sini.”
“Ho. . . ney?” Ah Jung kebingungan.

 

“Aku sedang mencarimu sepanjang hari ini.” ucap Ki Joon.
“Halo, aku So ran teman Gong Ah Jung.” sapa So Ran.
“Halo, aku Hyun Ki Joon .”
“Aku tahu. Ah Jung selalu memujimu.” jawab So Ran.
“Benarkah?” tanya Ki Joon.
“Kapan aku memujinya? !”
“Aku ingin membawa cintaku ke suatu tempat. cinta!” jawab Ki Joon seraya memaksa Ah Jung untuk berdiri.
“Ke mana kita akan pergi?” gugup Ah Jung.
“Apakah Kau lupa? Ada tempat yang perlu kita datangi.”

Ki Joon mengajak Ah Jung ke danau dan mereka menuju tempat teraman di korea, dengan perahu bebek mereka mengayuh sampai di tengah danau. Engga ada siapapun di sekitar mereka. Dan yang membuat terkejut lagi, pernyataan Ki Joon, “Menikahlah denganku.” ucap Ki Joon.
Ah Jung speechless.

bersambung…