“Jadi, Kau mengatakan, bahwa Kau tidak ingin aku bertemu dengan orang yang lebih baik dari suamimu?” tanya Ah Jung. Tebakannya 100 persen benar. Yang ada di otak So Ran hanya bagaimana caranya mengalahnkan Ah Jung dan membuatnya menderita. Mengambil cinta pertama Ah Jung saja, ternyata engga cukup.
“Tentu saja! Itulah hukum alam semesta. Aku pergi.” jawab So Ran seraya tersenyum penuh kemenangan. Senyuman yang membuat Ah Jung naik darah sampai ke ubun-ubun.
“Hukum alam semesta?” ulang Ah Jung.

 

“Honey!” panggil So Ran dengan suara keras agar Ah Jung bisa mendengarnya. Ah Jung keluar dari toilet dan cemburu melihat So Ran yang bersama sang sunbaenya Ah jung tersayang.
“Oh, Jung Ah!”” sapa Jae Bum seraya tersenyum.
Karena egonya, Ah Jung mengambil jalan pemikiran lain. Ia ambil sisi positif yang membawa efek negatif. Hhaha.. Intinya mengambil kesempatan dalam kesempitang. Ah Jung meyakinkan pada dirinya sendiri.
“Kadang-kadang, ketika aku mengabaikan otakku dan bertindak impulsif, akan selalu ada masalah.” selesai meyakinkan dirinya sendiri. Ah Jung langsung melambaikan tangan ke arah Ki Joon.
Ah Jung berteriak memanggil Ki Joon dengan panggilan,  “Honey, aku di sini.  Kau telah datang tepat pada waktunya.” ucap Ah Jung.

Melihat Ah Jung datang, Ki Joon tersenyum dan ia melambaikan tangan ke arah Ah jung. Ki Joon bermaksud untuk melambaikan tangan ke arah temannya yang berada tepat dibelakang Ah Jung. Tapi saat mendengar Ah Jung memanggilnya Honey, raut wajah Ki Joon berubah total. Ia tampak menyeramkan.

Mendengar hal itu, sontak So Ran mendekati Ki Joon dan memperhatikannya baik-baik dan engga berapa detik kemudian. So Ran jatuh pingsan. Siapa sangka orang yang dimakinya beberapa menit yang lalu sekarang benar-benar mengalahkannya.

Mendengar bahwa istri Ki Joon ada di hotel, semua teman Ki Joon langsung menghampiri dan melambaikan tangan ke arah Ki Joon.  Mereka tampak senang, ternyata Ki Joon sudah tidak kesepian lagi. kekeke.

Ki Joon marah total. Ia mendekati Ah Jung dengan tatapan mata yang menyayat.
“Apa yang telah aku lakukan?” tanya Ki Joon geram. “Kengapa kau tidak mengatakan hal itu lagi?”
Ah Jung hanya tersenyum salah tingkah,  “Mr Hyun Joon Gi, apa yang aku katakan . . Apa? Honey? Mr Hyun Joon Gi, Itu salahpaham. Sebuah kesalahpahaman!”

“Sebuah kesalahpahaman?” tanya Ki Joon.
“Aku tidak bermaksud. . . I’m sorry. Apa yang salah denganmu?” Ah Jung bingung harus menjelaskan seperti apa. Ah Jung malah berpikir untuk lari dan ia benar-benar lari mengejar So Ran dan Jae Bum yang akan menaiki lift.

Mereka saling kejar mengejar, Ah jung mencoba melarikan diri dari Ki Joon, sedangkan Jae Bum berusaha untuk menenangkan So Ran. Jae Bum langsung mengantarkan So Ran ke rumah sakit. Dan Ki Joon engga berhasil menangkap Ah Jung.
Pintu lift keburu tertutup dan kesempatan kali ini, Ki Joon kalah telak.
Mendengar rumor kalau keponakannya sudah menikah, sang bibi -Hyun Myung Jin- yang juga menjabat sebagai pemegang saham tertinggi dan juga presiden direktur dari World Hotel, segera datang menemui Ki Joon.
“Dimana dia?” tanya  Hyun Myung Jin.
“Dia bilang dia akan bekerja dan terus bekerja sepanjang hari.” jawab Park Hoon yang punya wajah super cute.
“Dimana?”
“Aku tidak bisa memberitahumu.” jawab Park Hoon seraya menundukkan kepalanya.
“Katakan padanya, jika ia masih ingin posisinya, ia harus segera menemuiku. Cepat!”
Park Hoon mengangguk. “Ya.”

Park Hoon segera menemui Ki Joon.
“Jadi, kau begitu takut dengan kata-katanya, sampai-sampai kau berlari ke sini? Apa yang harus aku katakan jika aku turun sekarang? Apa aku harus mengatakan kalau ada seorang wanita gila yang menyebarkan omong kosong-fitnah-rumor tentangku?! dan aku tahu apa-apa? Dan hal itu terjadi di hotelku sendiri?” omel Ki Joon.
Park Hoon menjawab, “Aku yang salah, malah menyuruhmu untuk berbicara secara damai dengannya. Haruskah aku jelaskan cara yang lain?”

“Maafkan aku. Ini semua salahku. Itu adalah kesalahanku” ulang Park Hoon.
“Baiklah. Katakan padanya bahwa aku akan menemuinya besok.” jawab Ki Joon.
“Tapi. . . bagaimana kalau kita mencoba berbicara dengan Gong Ah Jung lagi?” saran Park Hoon.
“Wanita itu membuat aku terlihat seperti orang bodoh! Aku akan membuat dia menyesal.”
“Tapi tetap saja, aku merasa kasihan pada Gong Ah Jung.” Park Hoon bersimpati pada nasib Ah Jung.
“Park Hoon.”
“Apakah Kau pikir presiden akan mengabaikannya? Sekarang, Gong Ah Jung benar-benar dalam kesulitan yang besar.” ucap Park Hoon meyakinkan.

Ki Joon akhirnya menemui sang bibi.

“Mengapa semua orang mengatakan kalalu kau sudah menikah?” tanya Hyun Myung Jin.
“Ini hanya rumor.” jawab Ki Joon dengan santai.
“Desas-desus?”
“Teman-temanku hanya salahpaham tentang hal itu.”
“Bagaimana mereka berani membicarakan seorang pemimpin seperti Kau! Siapa itu? Bukankah itu wanita yang bernama Ah Jung?” ungkap Hyun Myung Jin.
“Bagaimana Kau tahu namanya? Gong Ah Jung juga korban.” jawab Ki Joon.
“Korban? Aku dengar dia juga di pestamu kemarin.”
“Itu cuma rumor. Kau hanya salahpaham.” kilah Ki Joon.
“Kau hanya mencoba melindungi wanita ini, bukan?”
“Aku tidak menutupi apa-apa. Ini kebenarannya bibi. Ini bukan hal yang besar, jadi jangan khawatir tentang hal itu.”
Hyun Myung Jin sangat penasaran, ia kembali bertanya “Lalu, apa hubunganmu dengan wanita itu?”
“Tidak ada hubungan apapun sama sekali.” jawab Ki Joon dengan pasti.
“Jika tidak ada, lalu mengapa kau begitu gelisah? Kau pikir aku tidak tahu apa yang Kau pikirkan?”
“Presiden. . . Tidak, Bibi. Ini adalah urusan pribadiku. Jadi? Tidak peduli terlibat dengan masalah ini, aku akan menangani sendiri urusan pribadiku ini.”
Hyun Myung Jin menerka sesuatu, “Kau bukan orang yang mengarang tentang hal ini, kan?”
“What?”
“Karena Aku terus mengatakan padamu dan terus mendesakmu untuk menikah, Kau beralih ke trik kecil ini. Kau berusaha untuk melewatkan semua rencana perjodohan yang sudah aku buat?”
“Kau terlalu banyak menonton drama.” jawab Ki Joon lalu Hyun Myung Jin pun tersenyum.

“Bagaimana hasilnya?” tanya Park Hoon.
Ki Joon menjawab. “Adakan perjanji dengan seorang pengacara. segera.”
“Apakah Kau benar-benar yakin bahwa dia yang terbaik?” tanya Ki Joon saat membaca kartu nama Jae Bum.
“Bukankah semua pengacara itu sama?” tanya Park Hoon.

Ki Joon sampai di sebuah perusahaan hukum tempat Jae Bum bekerja.
Dan secara kebetulan mereka berdua bertemu di depan lift. Jae Bum yang melihat lelaki di sampingnya, Jae Bum langsung mengenali Ki joon.
“Apakah ada yang salah?” tanya Ki Joon yang risih dipandang seperti itu.

“Permisi. . . bukankau kau suami Ah Jung? Itu benar. Kau ingat aku? Kemarin, di hotel. Senang berkenalan denganmu. Aku Chun Jae Bum.” Jae Bum menyodorkan tangannya, ia berniat untuk berjabat tangan dengan Ki Joon, eh Ki Joon malah tidak memperdulikan Jae Bum.
“Chun Jae Bum.” kata Ki Joon.

“Sepertinya Ah Jung tidak menyebutkan apa pun tentang diriku, ya?” tanya Jae Bum yang mencoba mengakrabkan diri pada Ki Joon.
“Ya, tampaknya Kau berdua memiliki hubungan yang sangat dekat.” tanya Ki Joon.
“Tentu saja, kami bahkan telah tinggal bersama sebelumnya” jawab Jae Bum.
Ki Joon terkejut mendengar perkataan Jae Bum.
“Ah, kita dulu tinggal di asrama yang sama. Haha, seperti nya Kau benar-benar terkejut. Tapi, apa yang Kau lakukan di sini? Apakah Kau perlu pengacara?” tanya Jae Bum.
“No.”
” Benarkah?” Jae Bum lalu menaiki lift. Dan Ki Joon berkata pada Jae Bum, “Biar aku jelaskan semua ini. Aku bukan suami Gong Ah Jung.” dan kemudian lift tertutup.

Di dalam lift Jae Bum berpikir, “Apa maksudnya, bukan suami Jun? . . . aha, benar-benar! Mrs? Dia tidak ingin aku memanggil Ah Jung dengan namanya! Dia ingin aku memanggilnya Mrs! Ah. . . ! Mrs Ah Jung.”

“Apa yang salah?” tanya Park Hooon.
“Carikan aku pengacara lain.” pinta Ki Joon seraya berjalan cepat ke luar ruangan.
“Chun Jae Bum secara pribadi mengatakan kepadaku bahwa dia memiliki hubungan erat dengan Gong Ah Jung.”
“Apa? Dia dekat dengan Gong Ah Jung? Presiden, apa kita harus melaporkannya pada polisi?” saran Park Hoon ini membuat Ki Joon mengira-ngira, apa jadinya kalau Ah Jung ditangkap polisi. “Haruskah polisi ikut terlibat di masalah ini? “
Ah Jung ditangkap dua polisi dan ia berteriak-teriak tapi engga ada satu orangpun yang menolongnya.
“Apakah Kau Gong Ah Jung?” tanya sang polisi yang sudah menyiapkan borgol.
“Ya.” jawab Ah Jung dengan innocentnya.
“Kau ditangkap atas tuduhan penipuan pernikahan.” ujar sang polisi.
“Tidak!” jerit ah jung.
“Jika Kau memiliki sesuatu yang ingin dikatakan, sampaikanlah melalui pengacaramu.”
” Tidak! Tidak! Aku bersalah!”
Dan semua itu cuma angan-angannya Ah Jung dan Ki Joon saja. haha..

 

Ah Jung pun juga mengira-ngira hal yang sama saat ia melihat poster tangan yang di borgol.
Ah jung merasa aneh karena tiba-tiba saja dirinya tidak diganggu oleh telepon-telepon dari Ki Joon. Padahal seharusnya Ki Joon sedang marah besar.
“Kenapa? Kenapa begitu sepi? Tidak ada satu panggilan pun sepanjang hari ini.”
Dan tiba-tiba telepon berdering, teman Ah Jung yang mengangkatnya.
“Halo, ya, ya.” ia lalu berkata pada Ah Jung. “Ada seseorang yang menunggumu di bawah. Dia bilang dia suamimu Suami?”
“Benarkah? Suami.”
Dan itu bukan suami, bukan Ki Joon juga, tapi Sang Hee yang punya suara super seksi. Hehehe.. Ah Jung tersenyum lega, ternyata bukan Ki Joon yang menunggunya.
Mendengar Ah Jung dijemput oleh suaminya, semua staff kantor sibuk mengikuti dan menguntit Ah Jung. Mereka saling berbicara, “Ya, benar. Kapan dia punya seorang suami? Jackpot! Apa yang harus aku lakukan. . . ? Tunggu sebentar, tunggu sebentar. Hal ini begitu tiba-tiba.”
“Aku adik nya.” ucap Sang Hee pada teman-teman Ah jung.
“Aku membeli telepon seluler. Simpan nomorku, oke? Saat ini aku punya telepon, maka kita tidak akan kehilangan kontak satu sama lain.” Sang Hee meng-call nomor Ah Jung. Tapi Ah Jung malah kesal karena kejadian beberapa waktu lalu saat di World Hotel.
Saat itu, Sang Hee Bukannya membantu, tapi ia malah kabur. Ah jung mengomel, “Kau bilang kau akan membantuku, tetapi Kau malah melarikan diri.”
Sang Hee menjawab, “No, it’s not like that. . .Aku hanya khawatir. Aku pergi untuk memadamkan api, tapi malah menambah bahan bakar”
“Hyun Joon Gi. Dia pasti berpikir kalau aku wanita yang sangat aneh.” pikir Ah Jung.
“Ini memang terlihat seperti disengaja.” jawab Sang Hee.
“Dia pasti sangat marah, kan?”
“Sulit untuk menganggapnya sebagai lelucon. Ini tidak terlihat seperti itu, tapi dia benar-benar baik. Aku sedikit tahu tentangnya.”
“Apa? Apakah Kau akan berbohong dan mengatakan kalau kau itu adik nya? Kau kira aku akan tertipu meskipun nama kalian sama?”

Pembicaraan Sang Hee dan Ah jung terputus karena Jae Bum datang. Ia berkata pada Ah Jung,
“So Ran terus mengeluh sakit, jadi aku pikir aku harus membeli sesuatu yang manis. Oh Iya Ah Jung. Tadi aku bertemu dengan suamimu.”
Ah Jung mencoba menutupi wajahnya, “Apa yang ia katakana?”
“Ia bilang agar tidak memanggilmu dengan namamu, apa aku harus memanggilmu nyonya? Ah itu sangat aneh. Dan Ah Jung, So Ran akan pergi keluar negeri untuk melanjutkan studinya. Eh, bagaimana kalau kita pergi kencan ganda? Kau dengan suamimu dan aku dengan So Ran.”

Ah Jung melihat ke arah Sang Hee, Sang Hee menatapnya curiga. “Um, nanti saja saat tiba waktunya.” jawab Ah Jung.
Saat Jae Bum pergi, Sang Hee berkata “Tunggu sebentar. —Bila saatnya tiba?— Apa yang Kau coba lakukan?”
Ah Jung menjawab kebingungan. ” Aku tidak tahu.”

“Apakah kau tidak pulang?” tanya Sang Hee, ia duduk di samping Ah Jung. “Kau bisa diculik oleh penjahat. ”

Ah Jung menatap ke satu bangunan di depannya, seraya berkata, “Aku tinggal di ruang ujian itu selama dua tahun penuh.”
“Pasti sulit, ya?” terka Sang Hee.

“Tidak, aku merasa sangat bahagia, karena aku bersama dengan orang yang aku sukai. Karena aku benar-benar menyukai orang itu, aku ingin dia bisa melihat sisi baik dari diriku. Tapi aku tidak tahu caranya. Jadi aku memutuskan untuk mengakui perasaanku setelah ujian selesai. Tapi sesuatu terjadi. . .” ucap Ah Jung.
Sang Hee mendengar apa yang Ah Jung katakan, “Lalu?”
“Pada hari itu, aku melihat dia dengan wanita lain. Lucu kan?”
“Bukankah itu menarik? ! Dia orang yang baru saja kita temui, kan?”
“Bukankah Aku sangat konyol?”

 

Sang Hee bertanya ” Mengapa mengambil ikut tes itu?”
“Aku tidak seharusnya mengambil tes. . . Seharusnya aku pergi untuk operasi plastik atau melakukan hal yang lain, kan?” jawab Ah Jung.
“Apakah itu penting bagi dua orang untuk menghabiskan waktu bersama? Kau bisa selalu bersama dengan orang yang kau sukai selama seumur hidup dan masih tidak dapat mengerti satu sama lain. Oleh karena itu, aku cukup iri dengan orang itu.” ujar Sang Hee.
Dan saat diperjalanan pulang, Ah Jung bertemu dengan orang gila yang meminta dibelikan secangkir kopi. Tapi untung saja ada Sang Hee, Sang Hee menarik tangan Ah Jung memaksanya untuk berlari menghindari sang orang gila.

Ah Jung kelelahan, “Berhenti berjalan! Aku lelah! Kita harusnya membelikannya kopi. Mengapa kau lari?” tanya Ah Jung, ia duduk di bangku taman.
“Aku takut karena aku tidak punya uang receh.” jawab Sang  Hee seraya tersenyum.
“Ah, benar-benar!”
“Di mana rumahmu?”
“Di sana, hanya lima menit. Kau tau tidak? Di Daftar Nama di Republik Korea Selatan, hanya ada satu orang yang tinggal di Shimlin-dong. Hanya nama ayahku yang terdaftar di sana.” ujar Ah Joon.
“Oh, ajusshi benar-benar ulet ya?

Setelah mengantarkan Ah Jung pulang, Sang Hee datang ke rumah Yoon Joo. Tepat hari itu, Yoon Joo berulang tahun. “Sudah lama aku tidak kesini. Bagaimana kehidupanmu, Oh Yoon Joo? ” ucap Sang Hee pada dirinya sendiri. Sang Hee tersenyum, ia berdiri di depan rumah Yoon Joo yang kosong.

Yoon Joo melanjutkan study di prancis, ia merayakan ulang tahunnya saat itu bersama teman-temannya. Ia juga menjadikan acara ulang tahun itu sebagai tanda perpisahan.
Yoon Joo berkata pada teman-temannya, “Terima kasih! Aku lupa ini hari ulang tahunku.”
Tanya salah satu teman Yoon Joo, “Yoon Joo, apakah Kau benar-benar harus pergi? Tidak bisakah kau tinggal di sini selamanya?”
Yoon Joo menjawab, “Aku sudah di sini selama tiga tahun. Sudah waktunya untuk kembali.”

“Apakah Kau berencana untuk melakukan perjalanan ke luar daerah?” tanya teman Ah Jung yang melihat Ah Jung tengah membaca sebuah majalah wisata.
“Saat ini, aku benar-benar ingin meletakkan segalanya, aku tidak ingin punya beban.” jawab Ah Jung. “Apa yang salah? Sudah jelas dia marah, tapi kenapa dia diam saja? Aku bicara tentang seorang laki-laki. Apakah itu disengaja? Apakah suamimu juga seperti ini?” tanya Ah Jung.
“Ini. . . Aku tidak terlalu yakin. Apakah dia sibuk?”
“Sibuk.” Ah Jung sadar, haha.. ia baru sadar, mungkin karena Ki Joon sibuk jadi semua masalahnya dengan Ah Jung jadi terbengkalai.
Ah Jung mendapat reward dari pimpinan, ia diajak makan istimewa karena usahanya dalam bekerja. Tapi sayangnya, acara makan-makan itu dilakukan di hotel World. Hotel milik Ki Jooon. Ah Jung menutupi wajahnya saat masuk ke restaurant hotel, ia melihat ke sana-kemari, memeriksa barang kali ia bertemu dengan Ki Joon.
Dan benar saja, setelah acara makan-makan selesai, semua pimpinan pulang dan Ah Jung bertemu dengan Ki Joon. Awalnya Ah Jung merasa aneh, karena Ki Joon tidak memperdulikannya. Ah Jung kemudian mengikuti Ki Joon.
“Hanya sebentar saja.” ucap Ah Jung pada Ki Joon.
“Apa yang membawamu ke sini?” tanya Ki Joon  yang mulai kesal.
Ah Jung melihat ke sekeliling, ia lalu menarik tangan Ki Joon ke tempat yang lebih sepi. “Cepat, ada banyak orang di sini. Cepat.. cepat…”
Tapi Ki Joon malah melepas paksa tangan Ah Jung dan tanpa mereka sadari, ada banyak orang disekeliling mereka. orang-orang itu memperhatikan keduanya. Mau engga mau, giliran Ki Joon sekarang yang menarik paksa tangan AH Jung dan membawanya ke tempat yang benar-benar sepi.

“Apakah Kau bermaksud menghancurkanku?” tanya Ki Joon.
“Aku ingin minta maaf kepadamu. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak melakukannya dengan sengaja.” jawab Ah Jung.
“Kau tidak melakukannya dengan sengaja?”
“Benar, sama sekali tidak melakukannya dengan sengaja.”

“Gong Ah Jung, aku tidak peduli tentang masalah pribadimu.” bentak Ki Joon.
“Kau pasti berpikir kalau aku aneh. Tolong beri aku satu kesempatan lagi. Aku akan menjelaskan semuanya dengan benar.” pinta Ah Jung.
“Tidak perlu, jangan khawatir tentang hal itu.”
“Jadi, berarti Kau tidak marah lagi?” tanya Ah Jung seraya tersenyum senang.
Tapi apa yang dipikirkan Ki Joon sebenarnya, “Jangan berterima kasih, ini belum dimulai.” ucap Ki Joon pada dirinya sendiri.
Teman-teman So Ran menjenguk So Ran, lagi-lagi mereka membicarakan tentang Ah Jung. So Ran berkata kalau pernikahan Ah Jung dan Hyun Ki Joon itu benar.

Ah Jung sengaja menjenguk So Ran. Ah Jung berbasa-basi, “Aku Cuma sekedar lewat, jadi ya sudah saja aku datang untuk berkunjung.”
“Tidak apa-apa.” jawab So Ran dengan malas.
“Wafel.” tawar Ah Jung, ia membawakan So Ran kue serabinya korea.
“Apakah kau marah padaku? Aku tidak nafsu makan.” ucap So Ran kesal.
“Bukankah kau bilang kau ingin ini?” jawab Ah Jung, ia menunjukkan kue bawaannya.
“Kata siapa?” tanya So Ran.
“Sunbae. . Suamimu. . . ”

“Bagaimana Kalian bertemu?” tanya So Ran.
“Kami hanya kebetulan bertemu di sana.” Jawab Ah Jung.
“Aku sedang berbicara tentang suamimu.”
Ah Jung gugup, “Ya, itu benar-benar kebetulan.”
“Kau beruntung!” gumam So Ran.
Peri baik sepertinya mengelilingi Ah Jung, saat itu juga ia sangat ingin mengatakan hal yang sebenarnya kalau ia berbohong.. “Aku.. . jujur. . . ” ucap Ah Jung terbata.
“Benar. Gong Ah Jung, katakan dengan jujur kalau Kau tidak menikah.” jawab So Ran.
“Aku benar-benar. . . ” lagi-lagi kata-kata Ah Jung tertekan.
So Ran menerka dengan antusias. “Berbohong, kan? Bukankah begitu? Kau berbohong dan mengatakan pada Gi Hyun Joon kalau kau hamil, bukan? Jika tidak, bagaimana kau bisa menikah dengan Hyun Joon Gi? “
Ah Jung berkerut lalu bergumam, “Gadis ini benar-benar buruk.”
“Jangan salahkan aku di masa depan karena aku tidak cukup baik untuk Jae Bum.Tentu saja, Kau itu memang sudah ditakdirkan untuk menjadi istri dari Jae Bum. Kalau aku. . Lihatlah aku. hukum-hukum alam semesta akhirnya telah terbalik dan berbalik. Semuanya sia-sia, kan?” ujar Ah Jung. Ia membalikan semua cacian So Ran saat itu.
Haahaa.. Ah Jung senang setengah mati melihat So Ran yang mulai frustasi. So Ran marah-marah sedangkan Ah Jung berlonjak-lonjak kegirangan.

 

 

Hukum-hukum alam semesta akhirnya telah terbalik dan berbalik.

Ahaaha.. Cinta segitiga juga terjadi pada para ahjushi ini memperebutkan sang Ahjumma.

Ahjusshinya Sang Hee tengah patah hati, “Aku, Hwang Suk Bong, setelah bertahun-tahun hidup, sekarang aku jatuh cinta untuk yang pertama kalinya! Tetapi penyiksaan cinta ini terlalu menyakitkan.”
“Bukankah aku bilang kau harus menyerah?” ucap Sang Hee.
“Apakah Kau juga menyerah? Bukankah Kau tidak pernah menyerah? Apakah Kau mampu menyerah pada Yoon Joo?” balas sang Ahjusshi.
Di tempat sauna Ah Jung berkata pada Shim Ae Kyung untuk segera menikah dengan ayahnya.
Dan di rumah, Ah Jung juga melakukan hal yang sama, ia menyuruh ayahnya untuk menikahi Shim Ae Kyung. Tapi ayah Ah Jung menjawab kalau mereka berdua hanya sekedar teman.

Para ibu-ibu mulai bergosip ria. Setelah menjemput So Ran dari rumah sakit, mereka berkunjung ke rumah So Ran. Dan emosi So Ran mulai naik saat ketiga temannya membicarakan tentang Ah Jung.

“Bukankah kau berpura-pura menjadi teman yang baik, dan membelanya?” ucap salah satu teman Ah Jung.
“Apa maksudmu? Mengapa Kau tidak mengatakan apa-apa waktu itu? Jangan berbicara tentang hal itu lagi. Aku lelah. Mengapa tidak kalian semua pergi sekarang?” usir So Ran pada teman-temannya.
Sepulang dari rumah So Ran, ketiga temannya tetap saja membicarakan tentang Ah Jung dan So Ran.
“Dengan suami yang baik seperti Jae Bum, bagaimana bisa dia tidak puas?”
“Itu benar, jika suami ku menyayangiku seperti itu, aku akan membawanya kemana-mana setiap hari.”
“Walaupun aku sangat cemburu dengan Ran, aku lebih cemburu pada Ah Jung.”
“Apa yang kau cemburui?”
“Dia sudah menikah namun dia masih berdedikasi untuk pekerjaannya.”
“Tentu saja aku cemburu. Aku bahkan tidak cemburu pada Ran.”

Ah Jung tiba-tiba mendapat sebuah kiriman surat dari Ki Joon. Ah Jung terkejut melihat isi surat itu.
“Apa ini?” Ah Jung membacakan isi surat, “Sengaja merusak reputasiku di perusahaanku sendiri. . .” lalu ia berkata,  “Orang ini, benar-benar. . .”

Ah Jung engga menyangka kalau masalahnya akan serumit ini.

Untuk menjelaskan semuanya, Ah Jung bergegas menuju kantor Ki Joon.
“Hyun Joon Gi! Presiden Hyun Joon Gi!” panggil Ah Jung saat ia memasuki kantor Ki Joon. Tapi, Ah Jung langsung dicegat oleh kedua sekretaris Ki Joon.
“Permisi, apakah ada masalah?” tanya Park Hoon dengan sopan.
“Aku punya sesuatu untuk didiskusikan dengan presidenmu.”
“Maaf, tapi Presiden tidak ada di sini.” ucap Park Hoon.
Ah Jung kesal, ia lalu pergi dan mencari ide lain agar si pemimpin hotel yang terhormat tuan Hyun Ki Joon mau keluar dan menemuinya langsung. Hahah..

Park Hoon langsung melapor pada Ki Joon kalau Ah Jung datang dan ingin bertemu dengannya.
“Kau bilang dia sudah datang.” jawab Ki Joon.
“Ya, aku mengatakan padanya untuk pergi dan segera berdiskusi dengan pengacaranya sendiri.” jawab Park Hoon.
“Apakah dia setuju?” tanya Ki Joon.
“Dia tidak memiliki pilihan lain.”
 “Aku tidak berpikir ia akan menyerah dengan cepat begitu saja.” jawab Ki Joon. upss.. ada apa ini.. hehe..
“Apa?”
“Dia wanita bodoh. Aku pikir dia tidak akan menyerah begitu saja. “
“Kenapa Kau kecewa?” tanya Park Hoon.

 

Dan, benar saja, Ah Jung membuat onar. Ia booking satu kamar dan ia berpura-pura marah dan berteriak-teriak karena layanan kamar yang tidak memuaskan dan hal itu membuat sang pimpinan hotel harus turun tangan. Hyun Ki Joon langsung datang menemui Ah Jung.

“Presiden Hyun Joon Gi.” Sapa Ah Jung.
“Apa yang terjadi? Kau tau? Semua bukti sudah jelas. Apa yang kau lakukan itu adalah tindak penipuan. Kau! di pesta hari itu. Kau memberitahu orang-orang kalau aku suamimu, dan hal itu disaksikan oleh lebih dari dua puluh orang.” Ki Joon membeberkan bukti yang ia dapat.

“Apa maksudmu, “penipuan”?” tanya Ah Jung yang mulai panik.
“Apakah aku harus mengulangnya lagi?”
Ah jung memohon, “Tidak bisakah kita mengatasi hal ini dengan damai?”
“Kau memiliki kesempatan itu, tapi dirimu sendiri yang mengacaukan semuanya.”
“Pikirkan lagi. Apakah itu benar-benar mustahil?”

Ki Joon langsung menjawab, “Jika Kau berpikir dua kali, maka Kau hanya akan menyesal dua kali, kan? Apakah ada hal lain yang ingin Kau katakan? Kalau tidak ada, aku akan pergi. Goodbye!” pamit Ki Joon.

Tiba-tiba Ah Jung berteriak, “Menikahlah denganku.”
“Apa yang Kau katakan?” Ki Joon terkejut.
“Aku tidak mengatakan kita harus benar-benar menikah, hanya berpura-pura saja. Tidak, tidak. Apa yang aku maksudkan adalah. . . Aku tidak ingin melakukan apa-apa, aku hanya ingin menjaga status ku. Hanya untuk dua bulan. Tidak-tidak. . Bahkan satu bulan juga tidak apa-apa.” pinta Ah Jung. Ini mengenai reputasi Ah Jung dan egonya di depan So Ran.
“Tolong, Ayo kita menikah hanya satu bulan saja. kenapa? Karena aku mohon padamu! Aku akan segera mati. Aku hanya punya satu bulan untuk hidup. Jadi, aku mohon. .” ujar Ah Jung. Ki Joon malah pergi begitu saja tanpa mempedulikan Ah Jung.

 

Ah Jung bermalam di World Hotel, ia mabuk berat dan menelpon Sang Hee untuk datang. Sang Hee datang dan ia sangat mengkhawatirkan Ah Jung.

“Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya. Ini sangat lucu! Pada akhirnya, semua itu terjadi untuk membalas dendam pada orang itu. Ya. . . balas dendam. Balas dendam selama tiga tahunku itu sia-sia.” ujar Ah Jung.
Sang Hee memperhatikan Ah Jung,  “Kau masih marah?”

Ah Jung menjawab seraya menangis. “Aku sangat marah! Karena aku terlalu marah! Dalam tiga tahun terakhir, aku tidak melakukan apa-apa. Aku tidak bisa mencintai seseorang.. . Aku tidak bisa dating. . . tidak bisa menikah. . Aku tidak melakukan apa-apa.”
Sang Hee salah tingkah karena tangisan Ah Jung semakin mengeras, “Hey. Mengapa Kau masih menangis? Kau menarik. Bahkan jika Kau ingin segera menikah, itu tidak akan menjadi masalah bagimu. Apakah Kau baik-baik saja? Hey. . . Hey. . . ”

 

Ah Jung tertidur, Sang Hee menyelimuti Ah Jung seraya berkata pada Ah Jung, “”Apakah Kau tahu betapa mahalnya kamar di sini”

 

Pagi harinya, Ah Jung terbangun dan Sang Hee terus berpikir tanpa tertidur hari itu.
“Gong Jung Ah. Apakah Kau benar-benar ingin menikah dengan Gi Hyun Joon? Maksudku pernikahan palsu? Jika itu yang Kau inginkan, aku dapat membantumu.” ucap Sang Hee.

Bersambung….